Profil

MENJADI STAFF RESIMEN TARUNA BUKANLAH ALASAN UNTUK

TIDAK FOKUS KULIAH DAN MENYELESAIKAN SKRIPSI

Oleh: Sabtuti Martikasari, S.Hum

 

Pada edisi pembuka di tahun 2018 ini, Buletin Cakra Samodra menghadirkan sosok yang menonjol di kalangan taruna PIP Semarang, ia adalah Komandan Resimen Taruna (Danmentar) periode 86 dari angkatan 50.

 

Taruna Dewasa Muhammad Reza Wardani, lahir di Banyuwangi pada tanggal 30 November 1995. Reza menjabat sebagai Danmentar periode 86 sejak bulan Agustus 2017 lalu. Anak pertama dari pasangan Rubi Kuswardani dan Umi Islamiyati ini menghabiskan masa sekolah dasar hingga tamat SMA di Banyuwangi. Reza mengaku bahwa dulu ketika SD-SMP, ia adalah seorang anak yang pendiam dan kurang pandai bergaul. Reza menjelaskan bahwa faktor culture dan percaya diri yang membuatnya seperti itu. Reza menempuh TK dan sekolah dasar di sekolah Islam yang sarat akan ilmu agama sehingga ketika masuk ke SMP Negeri ia perlu menyesuaikan diri dengan sekolah umum.

 

Ketika SMA, Reza dipercaya untuk masuk dalam tim Paskibra Kabupaten. Sejak saat itu rasa percaya dirinya mulai muncul sehingga sudah bisa bergaul dengan banyak teman hingga akhirnya bisa masuk menjadi salah satu pengurus inti OSIS dan terpilih menjadi duta sekolah. Dari dua kegiatan yang diikuti tersebut, Reza merasakan banyak sekali belajar berorganisasi. Selain aktif berorganisasi, Reza juga beberapa kali mengikuti olimpiade akademik maupun non akademik. Reza pernah meraih juara 3 kejuaraan taekwondo tingkat provinsi.

 

Reza bercerita, awal mendaftar kuliah di PIP Semarang karena terinspirasi dari Pamannya yang seorang pelaut sukses dan bisa membantu keluarga termasuk dirinya, dari situ Reza berkeinginan untuk menjadi seorang pelaut dengan harapan bisa sukses dan dapat mengankat derajat ekonomi keluarga. Saat itu Pamannya memberikan masukan untuk mendaftar di PIP Semarang karena dari segi kualitas bagus dan ikatan alumninya kuat. Beruntung orang tuanya mendukung penuh keinginan Reza untuk bersekolah di PIP Semarang untuk menjadi pelaut.

 

Reza mengisahkan pengalamannya ketika menjadi yunior. Alarm stelling pertama adalah yang paling mengesankan karena di sini kami semua belum tahu apa-apa, belum beradaptasi sepenuhnya, kemudian tiba-tiba malam hari ada suara petasan di plaza kemudian suara bass drum dan teriakan di lorong kompi untuk memerintahkan keluar. Setelah berkumpul di plaza kami diberikan pengarahan dan sedikit kegiatan fisik oleh staff taruna angkatan 46 yang menjabat kala itu. Reza mengaku bahwa staff taruna tiap angkatan pasti memiliki karakter yang berbeda beda, dan staff taruna angkatan 46 adalah staff yang ia kagumi. “Segala yang saya lalui ketika menjadi yunior berkesan buat saya, semuanya indah untuk dikenang namun tidak untuk diulang” terangnya.

 

Ketika berada di tingkat 2, Reza bergabung dalam Tim Drumband Gema Perwira Samodra PIP Semarang sebagai salah satu Drum Major yang memimpin Drumband.

 

Reza melaksanakan Praktek Laut (Prala) di perusahaan Bernhard Schulte Shipmanagement (BSM) bersama 11 temannya yang lain yang lolos seleksi cadet. Selama 13 bulan di BSM, Reza menjadi cadet di 2 kapal berbeda. Kapal pertama adalah MV. MOL Globe yang merupakan training ship. Reza menjalankan training di kapal selama 3 bulan sebelum terjun di kapal sesungguhnya sebagai cadet bersama 7 orang cadet lain dan satu orang instruktur dari Jerman yang menurutnya sangat killer.

Di kapal, kami mempunyai sebuah kelas dan masing-masing cadet punya komputer sendiri untuk belajar. Pagi hari kami mendapat materi teori, siang sampai sore kami praktek. Instruktur sudah membuat materi jadwal belajar kami tiap minggunya. Kami dididik underpressure supaya kami siap menghadapi real life ketika menjadi seorang perwira. Instruktur yang seorang mantan navy/angkatan laut Jerman benar-benar menekan dan menggembleng kami, tiada hari tanpa beliau marah. Kami dipaksa untuk belajar dan tahu, mengerti, karena setiap minggu diadakan tes. Hasil tes sikap, performa, perilaku dan seluruh catatan lain dikirim ke perusahaan setiap bulan untuk dipertimbangkan konditenya.

 

Setelah 3 bulan training, Reza turun dari kapal selama 2 bulan untuk menunggu naik ke kapal selanjutnya. Kapal kedua Reza adalah MV. MOL Growth namun karena ganti penyewa, nama kapalnya kemudian diganti menjadi MV. San Pedro Bridge, sebuah kapal kontainer dengan rute Jepang-Amerika selama 10 bulan. Di kapal kedua, Reza merasa lebih siap dan terbukti performanya bagus di mata Perwira dan kru kapal. “Ini hasil dari tempaan instruktur killer di kapal pertama, saya berterima kasih kepada Mr. Volker Pusch” terangnya.

 

Reza menceritakan pengalaman berkesannya ketika prala. Pengalaman tak terlupakan ketika prala adalah ketika badai. Saat itu dari Amerika akan ke Jepang (lama perjalanan 12 hari) ketika hari ketiga, kapten mendapat email dari perusahaan bahwa rute yang akan dilalui mulai terbentuk badai sehingga kami harus mengganti rute. Kemudian Second Officer/Mualim 2 dipanggil untuk membuat rute baru, rute baru kami melalui Samudra Pasifik Utara. Di atas Samudra Pasifik ada kepulauan yang melintang dari Alaska sampai Rusia, namanya Kepulauan Aleutian. Jadi kami menggunakan shelter (berlindung di balik pulau) di Laut Bearing. Di situ saya melihat pemandangan yang sangat mengagumkan, kepulauan yang dikelilingi seperti di dalam dongeng-dongeng atau di film. Ketika di Bearing itu juga saya pertama kali melihat gunung es dan merasakan salju. Saya yang berasal dari Banyuwangi seorang anak pantai, melihat salju rasanya senang sekali. “Saya turun ke deck kemudian memegang salju dan sempat merasakan apa sih rasanya salju. Hahaha.” kenangnya.

 

Kembali ke kampus pada semester 7, sosok yang mempunyai hobi menulis, mendaki dan travelling ini dipercaya untuk menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Musyawarah Taruna (Wakadem), kemudian di semester 8, Reza diangkat menjadi Danmentar. “Saya dipercaya oleh staff periode sebelumnya untuk menjadi salah satu kandidat Danmentar bersama 9 orang lainnya. Kemudian diseleksi oleh resimen melalui test psikologi, IQ, dan wawancara. Kemudian 4 orang yang lolos tahap selanjutnya diseleksi langsung oleh Direktur, Wakil Direktur, Para Kepala Bagian, dan Kapusbangkatarsis.

 

Reza merasa bersyukur ketika diberi kepercayaan menjadi Danmentar. Lebih lanjut, Reza memaparkan, “Kami disini diberi kesempatan untuk belajar berorganisasi dan memimpin. Kampus sudah memberikan wadah untuk belajar tinggal bagaimana kita menjalani dan menikmati prosesnya saja. Sibuk memang iya, tapi ketakutan untuk bisa membagi waktu antara kuliah dengan berorganisasi, itu tergantung masing masing personal. Kesan tersediri ketika berinteraksi dengan adik-adik yunior, kemudian kita nanti yang kelak menjadi seorang perwira kapal juga harus bisa untuk memimpin sebuah kapal yang mengorganisir awak kapal dan membuat planning untuk kapan untuk deck cleaning, kapan untuk overhaul main engine, kapan untuk sandar, dan sebagainya. Anggap saja kompi adalah mini ship nya kita.”

 

Salah satu perwira kami pernah berkata, “banyak staff taruna yang seorang staff tapi tetap bisa menjadi wisudawan terbaik”. Dapat dicontohkan Yusuf Sutrisno, Wakil Komandan Resimen Taruna (Wadanmentar) staff periode lalu yang dilantik sebagai wisudawan terbaik program studi KALKL. Lalu di angkatan sebelumnya ada Mas Kavin Pegasi, wisudawan terbaik program studi nautika yang seorang Asisten Logistik, Mas Fatahillah wisudawan terbaik program studi teknika yang seorang Kepala Staff Resimen Taruna (Kasmentar), dan banyak lagi yang lain. Dari situ sudah bisa disimpulkan, sebenarnya staff itu bukan menghambat atau beban tambahan buat kita, tapi itu adalah sebuah challange untuk kita dalam membagi waktu kemudian untuk eksperimen untuk mengukur sebagaimana batas kemampuan kita. Saat ini, Alhamdulillah saya sudah selesai skripsi, tinggal menunggu sidang. Staff bukan alasan untuk menunda skripsi. Staff adalah wadah untuk belajar memimpin, berorganisasi, dan membagi waktu.

 

Ketika ditanya tentang perubahan apa yang akan ia bawa ketika menjabat, ia menjelaskan bahwa ia ingin membantu meningkatkan mutu pendidikan dengan lebih memberikan sharing pengalaman-pengalaman di kapal dan memperdalam basic knowladge kepada mereka supaya lebih mengerti. “Saya ingin taruna PIP Semarang bisa bersaing, tidak cuma di taraf Indonesia tapi internasional juga. Karena pengalaman saya ketika training ship bersama trainee BSM lain dari Rumania, Kamerun, Ghana, Myanmar, Filipina, Cina, nilai kami dibandingkan dengan antar trainee. Kualitas kita nggak kalah, yang selalu jadi kendala adalah kemampuan berbahasa Inggris. Untuk hal respect, ketangkasan,dan ketaatan kepada atasan, pendidikan, dan pengetahuan kita nggak kalah, yang kurang hanya keberanian kita untuk lebih mengasah kemampuan berbicara dan menerima tantangan masih kurang” jelasnya. Saat ini Reza telah menandatangani kontrak dengan BSM untuk langsung bekerja di perusahaan tersebut setelah wisuda nanti selama 3 tahun.

 

Di akhir wawancara, Reza menyampaikan prinsipnya sebagai pesan kepada adik-adik yunior. “Jadilah manusia yang berdampak positif bagi orang dan lingkungan sekitar. Keberadaan kalian harus memberikan manfaat bagi orang lain. Selama kita masih mampu, masih bisa, masih sehat, dan masih memiliki sesuatu yang bermanfaat untuk di-share maka lakukanlah”.

 

Reza juga berharap PIP Semarang bisa memberi perubahan dan memberikan inovasi baru dari sisi akademis, fasilitas dan pengajar karena menurutnya kita sudah tertinggal sekian tahun dari regulasi yang sekarang. “Saya juga berharap kapal latih bisa diperbarui sebagai sarana belajar taruna PIP Semarang. Pengajar-pengajar yang baru sangat membantu kami dalam memberi pengetahuan baru yang fresh dan update di dunia maritim.

 

DATA PRIBADI

NAMA MUHAMMAD REZA WARDANI
TEMPAT, TANGGAL LAHIR Banyuwangi, 30 November 1995
INSTAGRAM @mrezawardani50

 

RIWAYAT PENDIDIKAN

JENJANG NAMA SEKOLAH TAHUN LULUS
SD SD I AL IRSYAD AL ISLAMIYAH 2007
SMP SMP N 1 BANYUWANGI 2010
SMA SMA N 1 GIRI BANYUWANGi 2013