Fokus Taruna

MENGUPAS SEGI POSITIF  KESENIORITASAN DALAM MENEGAKKAN KEMBALI KARAKTER BANGSA DI PERGURUAN TINGGI KEDINASAN SEMI MILITER

Oleh

Taruni Aulia Ayu Frinatara Putri (531611106025.N)

 

Perguruan Tinggi Kedinasan Semi Militer di Mata Masyarakat

Siapa yang tidak tahu tentang perguruan tinggi kedinasan? Hampir sebagian besar warga Indonesia telah jatuh hati pada perguruan tinggi yang tiap tahunnya selalu kebanjiran peminat ini. Perguruan tinggi kedinasan memiliki nilai plus di mata masyarakat, salah satu alasannya yaitu berada di bawah kinerja langsung dari kementerian-kementerian negara. Masyarakat berasumsi bahwa lulusan perguruan tinggi kedinasan akan terjamin pada nantinya mendapatkan lapangan kerja, banyaknya beasiswa dari pemenritah, kualitas dan mutu pendidikan, serta keterjaminan perekrutan kerja menjadi motivasi kuat untuk sebagian besar pelajar Indonesia memilih perguruan tinggi kedinasan sebagai tempat menuntut ilmu. Tak ayal dari tahun ke tahun perguruan tinggi kedinasan selalu menjadi incaran nomor satu dalam mengemban ilmu di jenjang yang lebih tinggi.

 

Jika mendengar perguruan tinggi kedinasan, yang terbesit di pikiran ialah mereka para mahasiswa berpakaian ketat, potongan cepak, sepatu pantofel yang hitam mengkilat, serta segepok atribut menyilaukan mata yang bertebaran di seragam mereka. Badan yang selalu tegap, sorot mata yang tajam dan selalu pasti, langkah barisan yang seirama. Ya, mereka yang kita sebut dengan taruna. Mereka adalah pelajar dari perguruan tinggi kedinasan yang mengadopsi sistem semi-militer. Perguruan tinggi yang didalamya tidak hanya mengajarkan tentang pendidikan formal, tetapi juga menggembleng para taruna dalam hal fisik dan mental. Tidak lepas dari kata ‘semi-militer’, pasti akan muncul pula kata ‘senior-junior’ di benak kita. Menengok beberapa waktu lalu, kasus besar lagi-lagi kembali menimpa dunia pendidikan semi militer di Indonesia. Yang tidak dipungkiri masyarakat menilai sebelah mata terhadap hampir seluruh perguruan tinggi kedinasan semi militer. Bagi mereka yang ‘buta’ terhadap kesenioritasan, akan beranggapan bahwa hal tersebut hanyalah sebagai kendaraan saja. Dalam arti sebagai alat bagi mereka para senior memanfaatkan junior guna meyalurkan kemauan apabila tidak dilaksanakan oleh junior akan menjadi sasaran emosi para senior. Sebagian besar masyarakat Indonesia berargumen bahwa kekerasan ialah dampak buruk dari adanya kesenioritasan yang selama ini diberlakukan pada dunia pendidikan di Indonesia. Pada dasarnya, pengadopsian sistem kesenioritasan memiliki peranan khusus pengaplikasiannya di dunia kerja nanti. Dan kenyataannya, alasan tersebut tidak dapat dipukul rata pada semua perguruan tinggi kedinasan.

 

Contoh yang kita ambil pada hal ini adalah perguruan tinggi kedinasan pelayaran. Sudah cukup meluas di masyarakat bahwa sekolah pelayaran adalah sekolah yang pendidikannya cukup keras. Berulang kali Indonesia digegerkan dengan kasus kekerasan oleh senior terhadap juniornya.  Dapat diulas mengenai kasus kekerasan yang terjadi pada salah satu perguruan tinggi pelayaran yang namanya melambung di Indonesia, pro dan kontra terlontar dari kalangan taruna, pegawai, dan petinggi-petinggi yang sama-sama menyelami dunia pelayaran. Bagi mereka yang pro, kesenioritasan dan hal-hal didalamnya merupakan sesuatu yang penting dan perlu diberlakukan mengingat dunia kerja di laut bukanlah hal ringan. Tetapi kehidupan di laut merupakan kehidupan keras yang mana karakter, fisik, dan mental merupakan modal utama yang harus dibentuk mulai dari dini. Karena memang terdapat perbedaan konteks pendidikan keras tetapi tidak kekerasan terkadang dibutuhkan guna bertahan hidup menyikapi situasi sebenarnya. Sedangkan mereka yang kontra terhadap kekerasan yang mengatasnamakan kesenioritasan, mendukung dihapuskannya senioritas dan memberi perhatian penuh dalam peningkatan mutu pendidikan. Ya, kesenioritasan memanglah selalu ‘bermuka dua’ dihadapan mata setiap orang.

 

Senioritas, Loyalitas, Hierarki, Respect, Apatisme

Pada dasarnya, kesenioritasan merupakan hal yang perlu dan wajib diterapkan pada perguruan tinggi semi militer guna meningkatkan karakter taruna baik di lingkungan sekolah maupun pada nantinya di dunia kerja. Pengertian senioritas secara etimologis adalah orang yang lebih tua, pengertian lebih luasnya adalah pemberian yang dikhususkan untuk orang yang lebih dituakan dalam berbagai hal, karena orang yang lebih tua biasanya dipandang lebih memiliki banyak pengalaman. Dalam sekolah, pelajar menganggap senioritas adalah sebuah gap antara senior dan junior.

 

Weber mendefinisikan kekuasaan adalah kemungkinan seseorang melakukan keinginan di dalam suatu hubungan sosial yang ada termasuk dengan kekuatan tanpa menghiraukan adanya norma dan nilai yang menjadi landasan. Hubungan otoritas ada apabila pihak yang dikuasai “menyetujui” dengan pihak yang menguasai, misalnya bersedia melakukan tata tertib yang telah dibuat oleh senior yang mengatur untuk mendisiplinkan adik-adik kelasnya atau para junior.

Sistem senioritas ini terkait dengan ‘hierarki komando’ yang biasanya digunakan oleh militer, karena kebutuhan organisasi militer akan adanya suatu kepatuhan tanpa pertanyaan dari bawahan atau junior pada atasannya atau senior. Sayangnya sistem senioritas yang ideal hanya untuk militer, ternyata diadopsi secara sengaja maupun tidak ke berbegai institusi non-militer oleh penguasa orde baru diantaranya institusi pendidikan non-apatur. Proses adopsi inilah yang kemudian melahirkan eksis negatif, yaitu orang-orang yang memiliki ‘sindrom senioritas’.

 

Namun, tak selamanya senioritas membawa sisi buruk seperti yang saat ini masyarakat luas pikirkan. Senioritas tak selamanya mengandung arti senior yang gila hormat terhadap junior, senior yang memiliki kekuasaan atas junior, senior yang kapanpun leluasa memerintah junior untuk dilaksanakan, senior yang dapat kapan saja melampiaskan emosi terhadap juniornya. Tidak, tak selamanya seperti itu.

 

Lalu, hal positif manakah yang perlu dipertahankan dari kesenioritasan itu?

Menilik ke belakang 89 tahun silam, seluruh putera-puteri terbaik bangsa Indonesia mencanangkan sebuah ikrar dalam sanubari serta pengukuhan jati diri pemuda bangsa. Diiringi lagu Indonesia Raya ciptaan WR.Soepratman, Sumpah Pemuda diucapkan oleh Soegondo dan dijelaskan oleh Muh.Yamin. Semangat pemuda-pemudi tanah air dalam menjunjung tinggi bahasa Indonesia, bertumpah darah di tanah air bumi pertiwi, serta berbangsa di bawah kibaran merah putih berlambangkan Garuda Pancasila, membuat mereka terus menjaga keutuhan jiwa pemuda Indonesia yang khas baik kehidupan dan tata kramanya. Merupakan karakter ideal pemuda Indonesia yang kala itu sudah terbentuk sebegitu kokohnya akan sangat baik apabila dipertahankan hingga saat ini. Karakter yang bagaimana yang dimaksud?

 

Di sinilah pemuda Indonesia mengemban amanah menggali kembali etikat baik apa yang telah pemuda Indonesia era sumpah pemuda pertahankan. Biasa kita dengarkan sebelum tidur kedua orang tua kita bercerita bagaimana kehidupan mereka ketika menginjak masa sekolah. Dengan renyahnya mereka bercerita saat para guru mereka datang mengendarai sepeda tuanya dan menjinjing tas kulit di tangan kirinya. Berebutlah mereka untuk membawakan tas tersebut tanpa diminta. Lalu, bagaimana antusiasnya mereka ketika masih di usia belasan mau mendengarkan gemuruh-gemuruh pemimpin bangsa seperti Ir. Soekarno yang menyulutkan semangat pemuda Indonesia. Merupakan sebagian kecil dari setumpuk karakter-karakter pemuda yang wajib untuk diteruskan pada era globalisasi saat ini.

Guna mengembalikan itikad baik tersebut, pihak-pihak yang mengadopsi senioritas berharap pada nantinya dapat menjembatani dengan mengembangkan kembali harkat dan fungsi hierarki, mengembangkan keikhlasan dalam loyalitas, menumbuhkan tingkat kerespekan diri, serta memupus sifat apatis dalam konteks perguruan tinggi kedinasan semi militer terhadap taruna-taruni yang nantinya dapat diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat. Tidak hanya kembali membangkitkan karakter-karakter yang telah lama hilang, dalam bingkai ini juga mengembalikan fungsi kesenioritasan ke haluan yang mungkin selama ini telah diselewengkan oleh oknum-oknum yang mengatasnamakan senior.

 

Apa sajakah karakter-karakter bangsa yang perlu dipupuk kembali dalam dunia kesenioritasan perguruan tinggi kedinasan semi militer?

Seperti yang kira tahu bahwa senior-junior memegang teguh sebuah mind set yang tidak kalah kukuhnya dengan ‘NKRI Harga Mati’, yaitu ‘Hierarki Harga Mati’. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, hierarki (bahasa Yunani: hierarchia (ἱεραρχία), dari hierarches, ‘pemimpin ritus suci, imam agung’) adalah suatu susunan hal (objek, nama, nilai, kategori, dan sebagainya) di mana hal-hal tersebut dikemukakan sebagai berada di ‘atas,’ ‘bawah,’ atau ‘pada tingkat yang sama’ dengan yang lainnya.

 

Dalam perguruan tinggi kedinasan semi militer, yang disebut atasan tak hanya senior saja tetapi juga masuk didalamnya pengajar, dosen, perwira, direktur, dan jajaran lainnya. Hierarki merupakan salah satu upaya menimbulkan rasa hormat orang yang lebih muda baik berdasarkan usia maupun jabatan, rasa menghargai orang yang kedudukannya lebih tinggi dari segala faktor,  menimbulkan rasa segan, dan menyuguhkan sikap baik dihadapan atasan. Dalam hierarki juga mengajarkan loyalitas bagi taruna-taruni untuk menjaga tingkatan jabatan dalam rangka menghormati setiap kedudukan, bagaimana mengolah masalah dari tingkat diri sendiri ke atasan. Penerapan hierarki dalam perguruan tinggi kedinasan semi militer yaitu salah satunya bentuk penghormatan kepada atasan yang mana bertemu wajib memberikan salam dan penghormatan. Hierarki akan berjalan sesuai yang dicita-citakan apabila pada pihak yang terkait menjalankan dengan sepeuh hati tanpa ada pengatasnamaan kuasa kedudukan. Pada akhirnya, hierarki menimbulkan sifat segan, loyal terhadap pemimpin, menghargai setiap kedudukan jabatan, bijak terhadap kekuasaan dan memahami situasi bawahan beserta cara memperlakukannya.

 

Bagaimana dengan kerespekan yang berkesinambungan dengan hierarki?

Seperti cerita orang tua mengenai masa mudanya di sekolah, begitu antusiasnya mereka membawakan tas guru mereka bahkan hingga berebut. Lalu apa hubungannya terhadap hierarki dengan kerespekan? Bagi mereka yang bijak terhadap kedudukannya, dari hati nurani bawahan akan timbul hierarki yang kuat terhadapnya dan rasa segan karena keikhlasan. Rasa segan itu tercipta dari senior yang menjadi contoh bukan hanya memberi contoh, menjalankan tugas sebagai panutan dan pengayom junior. Secara tidak sadar, sang junior akan tergerak hatinya untuk mendekat dan mencontoh sikap baik senior tersebut hingga kemudian timbul rasa loyal yang akhirnya menjadi kerespekan tersendiri. Sebagai contoh, tanpa diperintah membantu senior merupakan hal yang wajib, cepat melaksanakan perintah baik atasan, dan contoh lain sebagaimana konteks senior-junior berubah menjadi tali persaudaraan kakak-adik.

 

Tanpa kita sadari, hierarki yang menimbulkan rasa loyalitas dan kerespekan secara tidak langsung akan memupus sifat apatis. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, apatis bisa diartikan sebagai suatu sikap acuh-tidak acuh, atau tidak peduli, atau masa bodoh. Apatis sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu aphates, yang secara harfiah berarti tanpa perasaan. Kata ini kemudian diadaptasi ke dalam bahasa Inggris menjadi apathy. Adapun dari sisi psikologis, apatis bisa disebut sebagai keadaan ketidakpedulian ketika seorang individu tidak menanggapi rangsangan kehidupan emosional, sosial, atau fisik.

Di perguruan tinggi kedinasan semi militer, wajib hukumnya berjiwa sosial tinggi dan menghapuskan sifat apatis. Terlebih hal tersebut bukanlah sebuah kewajiban lagi, namun sudah menjadi kebutuhan di dunia pendidikan maupun kerja. Karena pada dasarnya perguruan tinggi kedinasan semi militer merupakan gambaran dari militer yang memiliki kesatuan atas nama korps taruna. Struktur dari korps taruna sendiri terdapat tingkatan resimen yang membawahi batalyon, didalamnya sendiri dipimpin oleh perwira. Kemudian di bawah batalyon terdapat peleton-peleton yang juga dipimpin tidak hanya satu orang saja. Banyaknya taruna harus disatukan dengan rasa korsa, yaitu komando satu rasa. Maka dari itu sifat apatisme harus dibuang jauh-jauh. Karena hidup berdampingan di bawah satu komando wajiblah saling mengetahui baik keadaan fisik, mental, psikologis, kebutuhan, dan kekurangan antar taruna. Hal inilah yang menjadi rahasia begitu kuatnya kesatuan korps taruna seperti yang kita ketahui.

 

Mengembalikan Karakter Bangsa Melalui Senioritas

Pada dasarnya, yang dimaksud dengan senioritas merupakan salah satu perilaku atau etika keprajuritan yang sebenarnya merupakan upaya menamamkan loyalitas dan jiwa korsa atau Es Prit De Coprs. Hubungan senior yunior merupakan pola perilaku dan etika taruna dalam pendorong besar keberhasilan akademik maupun karakter pada masa kedepannya. Apabila senioritas dijalankan sesuai haluannya, sesungguhnya merupakan modal dan jembatan utama menumbuhkan kembali karakter pemuda bangsa Indonesia yang sempat hilang.

 

Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada 28 Oktober sebelum-sebelumnya dan mendatang tak sekedar diperingati dan sebuah simbol gagahnya pemuda kita tanpa ada instrospeksi dari penerus bangsa yang sedang tumbuh ini. Dengan adanya transformasi dan rekonstruksi dalam sistem pendidikan perguruan tinggi kedinasan, diharapkan pemuda-pemuda bangsa saat ini dan mendatang dapat menjadi ujung tombak utama dalam memikul nama harum serta kualitas bangsa Indonesia yang lebih maju, berintegritas tinggi, dan menjadi bangsa dengan identitas karakter bangsa yang kuat.

 

 

 

Sumber:

http://semangatpemuda-indonesia.blogspot.co.id/p/sejarah-sumpah-pemuda.html

http://arti-definisi-pengertian.info/pengertian-hierarki-kekuasaan/

https://id.wikipedia.org/wiki/Hierarki

http://liliaf.blog.upi.edu/pengertian-senioritas/

http://www.kamuskata.com/kamus/artikata/24271/respek

https://kbbi.web.id/apatis

https://www.kompasiana.com/achmedsukendro/kapolri-antara-senior-dan-atasan_57637b45cf9273ea1c7ac5aa